Solusi Islam Mengentaskan Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu problematika sosial yang dihadapi di hampir setiap negara, termasuk Indonesia. Dalam konteks bernegara, melalui UUD 1945 secara eksplisit disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

 

Dalam pandangan Islam, kemiskinan bukanlah permasalahan per individu melainkan masalah sistem dan masalah sosial yang untuk mengatasinya dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

 

Adapun dalam pandangan bernegara, UUD 1945 telah mengatur tentang keterlibatan pemerintah pada aspek kemiskinan yakni pada pasal 34 ayat 1 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”

 

Berdasarkan ayat ini maka sistem pemerintahan yang baik menjadi hal yang berperan sangat signifikan pada pengentasan kemiskinan.

 

Karenanya saat berbicara tentang kemiskinan, kita tidak bisa hanya melibatkan aspek ekonomi saja melainkan pula perlu melibatkan aspek non ekonomi seperti psikologis, sosial, budaya dan politik.

 

Pengertian Kemiskinan

Apa sih sebenarnya kemiskinan itu?

Para ahli kemudian memberikan sejumlah definisi tentang kemiskinan, antara lain sebagai berikut:

 

Menurut Hal dan Midgley, kemiskinan adalah kondisi deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat.

 

Menurut Friedman pengertian kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan kekuasaan sosial berupa asset, sumber keuangan, organisasi sosial politik, jaringan sosial, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan, serta informasi.

 

Selanjutnya menurut Suparlan arti kemiskinan adalah standar tingkat hidup yang rendah karena kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang bila dibandingkan dengan standar kehidupan yang berlaku di masyarakat sekitarnya.

 

Dari berbagai definisi kemiskinan di atas, dapat kita lihat bahwa meskipun sudut pandang dan konteks pengertiannya beragam namun kita bisa menarik kesamaan dari berbagai pengertian tersebut bahwa kemiskinan bisa diartikan sebagai kesenjangan antara kebutuhan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Jenis-Jenis Kemiskinan

Kemiskinan ternyata memiliki berbagai jenis. Adapun jenis-jenis kemiskinan menurut para ahli antara lain sebagai berikut

  1. Kemiskinan Subjektif

Kemiskinan subjektif adalah jenis kemiskinan yang berasal dari sebuah anggapan bahwa dirinya miskin. Berangkat dari dasar pemikiran bahwa mereka belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri meskipun jika dilihat dari jumlah penghasilan mereka, maka sebenarnya tidaklah miskin.

Kemiskinan jenis ini bisa dikatakan sebagai bermental miskin atau bermental pengemis. Mereka selalu menganggap diri mereka lebih susah hidupnya daripada orang lain dan berhak memperoleh bantuan.

 

  1. Kemiskinan Absolut

Jenis kemiskinan ini adalah kemiskinan yang nyata berdasarkan perbandingan atau selisih antara nominal penghasilan seseorang dengan beban yang harus ia tanggung. Dan jika dibandingkan dengan standar kelayakan hidup layak maka penghasilan atau harta yang orang tersebut miliki berada di bawah standar kelayakan.

 

  1. Kemiskinan Relatif

Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang terjadi akibat adanya masalah kebijakan pembangunan. Hal ini akibat sistem yang belum bisa memberikan kesempatan kerja kepada semua lapisan masyarakat.

Contoh : banyaknya pengangguran akibat kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia.

 

  1. Kemiskinan Natural

Kemiskinan natural adalah kemiskinan yang terjadi akibat kurangnya sumber daya alam yang tersedia dan kurangnya daya penyokong kehidupan di alam. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan masyarakat menjadi tidak produktif.

Contoh : kemiskinan yang terjadi di Afrika akibat tanah yang tandus dan terbatasnya sumber air bersih.

 

  1. Kemiskinan Kultural

Kemiskinan jenis ini adalah kemiskinan yang terjadi akibat budaya, adat atau kultural masyarakat setempat. Seperti berbagai suku di Indonesia dan dunia seperti Suku Badui yang menolak kemajuan zaman dan mempertahankan kehidupan miskin sebagai bagian dari budaya turun temurun mereka.

 

  1. Kemiskinan Struktural

Kemiskinan jenis ini adalah kemiskinan yang terjadi akibat struktur sosial yang tidak mampu memberikan kemanfaatan dari sumber daya alam bagi masyarakat. Yang terjadi akibat adanya sistem yang tidak tepat.

Contoh : Masyarakat Papua yang tidak bisa mengambil manfaat dari tambang Freeport.

 

 

Penyebab Kemiskinan

 

Setelah mengetahui pengertian dan jenis-jenis kemiskinan, mungkin kita akan bertanya-tanya, apakah yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi di masyarakat? Baik secara individu maupun dalam kelompok-kelompok masyarakat.

 

 

Menurut berbagai kajian para ahli, dirumuskanlah sejumlah faktor yang menjadi penyebab kemiskinan, antara lain sebagai berikut :

 

  1. Laju pertumbuhan penduduk

Menurut para ahli, salah satu penyebab kemiskinan adalah laju pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan laju pertumbuhan ekonomi. Jika kita melihat manusia sebagai beban masyarakat maka faktor ini adalah benar adanya. Namun sepertinya kita perlu mengoreksi cara pandang kita terkait hal ini, dengan menjadikan manusia sebagai tenaga kerja dan potensi sumber daya yang perlu dikembangkan ke arah yang lebih baik.

 

Jika kita berpegang pada janji Allah bahwa semua yang hidup pasti memiliki rejekinya masing-masing. Maka seharusnya pertumbuhan penduduk tidaklah menjadi penyebab kemiskinan.

 

Meski begitu, untuk melangkah ke tahap tersebut, kita perlu melalui berbagai proses berupa pendayagunaan masyarakat. Agar setiap individu dapat bekerja dan berkontribusi aktif dalam pemenuhan hidupnya sehari-hari

 

  1. Angka pengangguran yang tinggi

Terbatasnya lapangan pekerjaan mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran di suatu negara. Hal serupa terjadi di Indonesia, bahwa di negara kita masih tinggi angka pengangguran. Sangat disayangkan karena pengangguran umumnya melanda masyarakat yang berusia produktif.

 

Untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan berbagai kebijakan pro masyarakat dari pemerintah dan juga pengusaha-pengusaha di sektor privat agar membuka kesempatan kerja dan lapangan kerja yang lebih banyak untuk masyarakat.

 

  1. Tingkat pendidikan yang rendah dan keterampilan yang kurang

Faktor pendidikan dan keterampilan menjadi salah satu pendukung utama bagi seseorang untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan baik. Namun sayangnya di Indonesia masih banyak masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan dengan memadai. Selain itu, mereka juga tidak cukup memiliki bekal keterampilan yang bisa menunjang pekerjaan mereka.

 

  1. Bencana alam

Bencana alam merupakan faktor penyebab kemiskinan yang tidak bisa dicegah. Bencana alam tidak hanya menyebabkan kemiskinan tapi juga melumpuhkan perekonomian masyarakat yang ditimpa bencana. Pemulihan pasca bencana alam tidaklah mudah, untuk itu dibutuhkan bantuan dari berbagai pihak terutama pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk membantu para korban yang jatuh miskin akibat bencana alam agar mereka bisa segera terlepas dari berbagai kesulitan hidup.

 

  1. Distribusi yang tidak merata

Distribusi pembangunan yang  tidak merata di Indonesia mengakibatkan terjadinya kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat. Mereka yang hidup di area terpencil cenderung sulit memperoleh akses untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka dibanding mereka yang hidup di kota besar.

 

Solusi Mengentaskan Kemiskinan

 

Kemiskinan merupakan permasalahan yang cukup pelik di setiap negara, terutama di Indonesia. Lantas bagaimana Islam memandang kemiskinan?

Sebagai agama yang ajarannya komprehensif, terdapat sejumlah rumusan untuk mengentaskan kemiskinan berdasarkan ajaran Islam, antara lain sebagai berikut:

 

  1. Rekonstruksi pemikian individu

 

Masyarakat sebaiknya menghentikan pemikiran bahwa kemiskinan adalah takdir. Karena pemikiran seperti itu kerap kali dijadikan dalih pembenaran untuk malas berusaha. Padahal dalam sejumlah ayat dalam Al-Qur’an, Allah menjamin rejeki bagi setiap makhluk jika mereka bersusaha.

 

Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 6 :

 

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rizkinya dan Allah mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud: 6)

 

Dan pada Q.S Adz Dzariyat ayat 58 :

 

 

“Sesungguhnya Allah Maha Memberi rezeki lagi mempunyai kekuatan yang dahsyat”.

(QS. Adz-Dzariyat [51]: 58)

 

  1. Membangkitkan etos kerja individu

Menurut Musa Asy’ari, etos kerja adalah rajutan nilai-nilai  yang membentuk kepribadian seseorang dalam bekerja, yang kemudian membentuk semangat yang membedakannya antara yang satu dengan yang lainnya.

 

Islam tidak memberikan larangan kepada umatnya terhadap harta, melainkan mengutamakan agar umatnya memiliki harta yang berlebihan. Berlebihan dalam hal ini bahwa harta yang dimiliki tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tapi juga bisa memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

 

Untuk itu dibutuhkan etos kerja yang tinggi agar setiap orang mampu terlepas dari jerat kemiskinan. Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang mendorong etos kerja adalah Q.S. Al-Jumu’ah ayat 10 :

 

 

  1. Membangun kepedulian sosial

Dalam pandangan Islam, kemiskinan bukan hanya menjadi beban perorangan melainkan pula adalah beban dan tanggung jawab bersama untuk menanggulanginya.

 

Ada sejumah syariat dalam Islam yang mengusung nilai-nilai kepedulian sosial seperti zakat, infak, wakaf dan sedekah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk peduli pada kondisi ekonomi orang lain dan tidak bersikap acuh tak acuh.

 

Jumlah zakat, wakaf, infak dan shodaqoh di Indonesia cukup besar. Diharapkan agar ke depannya pengelolaan zakat, wakaf, infak dan sedekah bisa dikerjakan dengan lebih baik. Sehingga menjadi salah satu alternatif solusi dalam mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Apalagi Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia.

 

  1. Memperbaiki sistem pemerintahan

Dalam pandangan Islam pemerintah diwajibkan untuk mengambil peran dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Jika kita melihat bagaimana Rasulullah dan para sahabat dalam menjalankan pemerintahan sebagai Khalifah, maka kita akan menemukan sejumlah teladan bagaimana mereka bertindak terhadap kaum dhuafa dan fakir miskin.

 

Sebagai contoh, Khalifah menyediakan makanan gratis kepada fakir miskin, bahkan mengantarkannya langsung ke rumah mereka masing-masing. Selain itu, setiap Khalifah Islam juga mencontohkan gaya hidup yang sederhana saat menjabat sebagai penguasa, sebab mereka menganggap harta negara adalah milik rakyat.

 

 

Demikianlah ulasan tentang kemiskinan dan beberapa solusi yang diajarkan dalam agama Islam untuk mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *