Sejarah Panjang Konflik Palestina – Israel

konflik palestina-israel

Konflik Palestina-Israel merupakan konflik kemanusiaan internasional yang sudah lazim terdengar di telinga masyarakat di seluruh dunia. Konflik ini sudah terjadi pada pertengahan abad ke-20 hingga saat ini. Saking panjangnya konflik ini membuat semua pihak merasa titik temu untuk penyelesaian adalah sesuatu yang mustahil.

 

Pembantaian masih terus terjadi, dilakukan oleh para Zionis Israel kepada rakyat Palestina. Genosida adalah isu yang selalu disebut-sebut sebagai motif dari pembantaian tersebut. Jalur Gaza dan sejumlah daerah lainnya menjadi saksi atas pembantaian-pembantaian mengerikan yang terjadi di tanah Palestina.

 

Konflik ini dicetus oleh tindakan pembatantaian oleh umat Yahudi terhadap umat Islam. Namun dalam perjalanannya, efek yang ditimbulkan semakin parah. Saking luasnya efek yang timbul dari konflik berkepanjangan ini, maka tidak layak jika masih disebut-sebut sebagai konflik per agama, melainkan harus disikapi lebih luas ke ranah kemanusiaan. Bahwa ada banyak sekali korban dari masyarakat sipil termasuk wanita dan anak-anak yang berjatuhan akibat konflik ini.

 

Seluk Beluk Negara Palestina

 

Sebelum kita melangkah lebih jauh pada konflik yang berkecamuk di tanah Paletina, adalah perlu untuk mengetahui terlebih dahulu perihal seluk beluk negara Palestina.

Negara Palestina dalam bahasa Arab disebut dengan دولة فلسطين‎, Dawlat Filastin, atau Filastin فلسطين‎,

 

Secara geografis, letak dari negara Palestina sangat strategis yakni di antara Mesir, Suriah dan Jazirah Arab dan wilayah ini menjadi saksi sejarah panjang persimpangan budaya, agama, perdagangan dan politik.

 

Luas Wilayah berdasarkan Peta Palestina

 

Adanya konflik panjang terkait penguasaan wilayah dengan zionis Israel, mengakibatkan luas wilayah Palestina menjadi semakin sempit. Gambar ini menunjukkan bagaimana penyusutan wilayah Peta Palestina masa ke masa.

Berdasarkan peta tersebut dapat kita lihat bahwa wilayah Palestina dari tahun 1945 hingga saat ini mengalami penyusutan yang sangat drastis. Hal ini mencerminkan bahwa penjajahan yang dilakukan oleh para Zionis Israel semakin gencar dan terus berjalan.

 

Selain itu, hal yang semakin melukai perasaan warga Palestina dan umat Muslim secara umum adalah bahwa negara Palestina tidak ditemukan dalam mesin pencari lokasi Google Maps. Google Maps tidak mencantumkan nama negara Palestina dalam peta digital yang mereka buat. Alih-alih menggunakan nama negara Israel.

 

Menurut sejarahnya, pada tahun 1916 Palestina masih terdiri atas wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yordania. Liga Bangsa-Bangsa kemudian memberikan mandat sehingga Palestina menjadi sebuah negara yang berdaulat di bawah administrasi Kerajaan Inggris. Kesepakatan yang merupakan bagian dari bentuk Perjanjian Sykes-Picot antara Kerajaan Inggris, Perancis dan Kekaisaran Turki Ottoman ini berlangsung pada tahun 1920 hingga tahun 1948

 

Namun pada tahun 1947 PBB mencanangkan sebuah rencana yang dikenal dengan nama Partition Plan yakni dengan menjadikan Palestina sebagai negara Yahudi dengan Yerusalem sebagai Kota Internasional. Hal ini tentu menjadi hal yang sangat dikecam oleh bangsa Arab yang menjadi etnis wayoritas Palestina.

 

Akibat dari Partition Plan itu, terjadi gelombang migrasi yang masif oleh orang-orang Yahudi. Mereka berbondong-bondong memasuki wilayah Palestina sehingga populasi mereka menjadi sangat banyak.

 

Lalu pada tahun 1948, Perjanjian Sykes-Picot dan Kerajaan Inggris melepaskan Palestina dari negara administratifnya. Akibatnya terpecahlah perang yang dicetus oleh Zionis Israel yang menyatakan bahwa negara yang mereka tempati adalah negara Israel dan mengambil alih kekuasaan atas negara Palestina.

 

Setelah perang tercetus, maka perebutan wilayah antara pribumi Palestina dengan penjajah Israel semakin gencar terjadi dan mengakibatkan berkecamuknya berbagai konflik pertumpahan darah di tanah tersebut.

 

Palestina berusaha mempertahankan wilayah dan kedaulatan negara mereka dengan melalui berbagai rintangan, mulai dari pertaruhan nyawa hingga peliknya konspirasi yang berlangsung di dunia politik internasional.

 

Gambaran konflik Palestina-Israel di dalam Al-Qur’an

 

Konflik Palestina-Israel bukan hanya konflik politik namun juga konflik kemanusiaan yang berada dalam bingkai keagamaan.

 

Bagi umat Islam sendiri, konflik Palestina dan Israel sudah tergambarkan dalam kitab suci Al-Qur’an. Yang tersirat dengan jelas pada beberapa ayat yang terkandung di dalam kitab suci. Beberapa di antaranya adalah:

 

  1. Pada QS Al Maidah ayat 82 yang berbunyi “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. Pada ayat ini nampak disebutkan bahwa Yahudi menjadi sosok yang bengis dan sadis terhadap umat Muslim dan selalu melanggar perjanjian.

 

  1. Selain itu pada QS Hajj ayat 40 yang berbunyi “.. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hanyalah Allah.’” Dari ayat tersebut nampak jelas gambaran perlakuan Yahudi terhadap Muslim Palestina yakni dengan mengusir dan membunuh mereka.

 

  1. Lalu pada QS Al-Baqarah ayat 120 yang berbunyi “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. Ayat tersebut menunjukkan adanya persekongkolan dan konspirasi yang terbangun antara umat Yahudi dan Nasrani untuk menggerogoti umat Islam.

 

  1. Selanjutnya pada QS Al-Hasyr ayat 11 yang berbunyi “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: ‘Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu…’” Ayat ini menunjukkan bahwa adanya kemunafikan yang meracuni tubuh jihad umat Islam yang harus diwaspadai.

 

Selain ayat-ayat di atas, ada banyak lagi ayat dalam Al-Qur’an yang menggambarkan peristiwa konflik Palestina – Israel yang berlangsung hingga saat ini. Hal ini menunjukkan kepada kita semua tentang keajaiban ayat-ayat Al-Qur’an. Bahwa betapa Al-Qur’an adalah kitab suci yang telah ditulis ribuan tahun lalu namun berisi prediksi peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan.

 

Sejarah Palestina dan Konflik yang Menyertainya

 

Setiap konflik tentu memiliki akar permasalahannya masing-masing, tidak terkecuali pada konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel. Sebagaimana yang kami tuliskan pada pembahasan sebelumnya bahwa jika ditilik dari sisi sejarahnya maka konflik ini berawal dari kebiadaban yang dilakukan oleh para Zionis Israel terhadap pribumi Palestina.

 

Israel yang sejatinya adalah pendatang di tanah Palestina, namun di bawah gerakan Zionisme yang sarat akan keserakahan, mereka justru melakukan berbagai tindak kedzhaliman kepada bangsa Palestina yang telah menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka.

 

Selain itu, ajaran Yahudi yang mereka anut membuat mereka merasa lebih berhak pada tanah Palestina dan menyebut-nyebutnya sebagai tanah yang dijanjikan oleh Tuhan untuk mereka.

 

Secara umum, tidak ada agama di dunia ini yang tidak menganjurkan perdamaian. Terutama agama-agama Samawi. Tidak terkecuali Yahudi dan Islam. Namun dengan adanya sengketa wilayah yang terjadi di antara penduduk asli Palestina dan pendatang dari bangsa Israel, maka akibatnya upaya perdamaian selalu gagal mencapai titik terang.

 

Israel sebagai bangsa yang tidak memiliki wilayah di muka bumi ini selalu berupaya untuk terus menjaga eksistensinya. Selain itu, adanya keyakinan bahwa merekalah bangsa yang paling mulia menjadikannnya beringas dan merasa lebih berhak memiliki wilayah yang ditumpanginya daripada penduduk asli setempat.

 

Berbagai upaya perjanjian perdamaian selalu saja dilanggar oleh pihak Zionis Israel terus menerus dan berulang-ulang. Membuatnya menjadi pihak yang selalu menindas dan berbuat aniaya kepada warga sipil Palestina.

 

Adanya keberingasan Zionis Israel terhadap Muslim Palestina inilah yang memicu perlawanan dari para militan Palestina. Zionis Israel telah berbuat dzhalim dan mengadakan banyak kerusakan di tanah tempat tinggal mereka membuat penduduk asli Palestina menjadi muak dan melawan. Islam adalah agama perlawanan dan menjadi sebuah kewajiban bagi setiap Muslim untuk melawan segala bentuk kedzhaliman.

 

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah ayat 190 yaitu “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

 

Namun perlu dipahami bahwa perang adalah jalan terakhir dan jalan terpaksa yang dilakukan oleh Muslim Palestina, di saat jalan damai tidak pernah terwujud. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang lebih mengutamakan perdamaian di atas perang, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yakni “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfaal ayat 61)

 

 

Bendera Palestina Berkibar di PBB

 

Konflik berdarah yang terjadi di tanah Palestina selalu menggugah sisi kemanusiaan dan emosional masyarakat dunia internasional. Pada September 2015 lalu sebuah peristiwa bersejarah yang sangat menggugah terjadi di markas besar PBB di New York.

 

Dalam sebuah pidatonya di forum internasional, Mahmud Abbas, Presiden Palestina mengecam tindakan Israel yang menyabotase AS dalam upaya menengahi konflik yang terjadi di Palestina. Setelah menyelesaikan pidatonya, beliau lantas mengibarkan bendera Palestina di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat. Lalu menegaskan sejumlah pernyataan bahwa Yerussalem adalah Ibu Kota resmi dari negara Palestina dan menjadikan tanggal 30 September pada hari itu sebagai hari Bendera Palestina.

 

Setelah itu, PBB menyetujui untuk mengibarkan bendera Palestina di markas PBB selama satu bulan penuh. Meskipun demikian, Israel tetap menganggap bahwa pengibaran bendera Palestina tersebut tidak berarti apa-apa untuk penyelesaian konflik yang terjadi.

 

Penutup

 

Negara Palestina adalah negara yang disucikan oleh tiga agama Samawi yakni Islam, Yahudi dan Nasrani. Bagi umat Islam sendiri, Palestina menjadi simbol nilai spiritual dengan kehadiran Masjidil Aqsha di negara tersebut. Masjidil Aqsha merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk beralih kiblat ke Masjidil Haram.

 

Kesucian Al-Quds disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai wilayah yang diberkahi oleh Allah. Menjadi saksi sejarah sebuah perjalanan spiritual Isra’ Mi’raj oleh Rasulullah s.a.w. Di sana pula menjadi pusat kajian agama Islam yang melahirkan banyak ulama dan orang-orang yang setia pada perjuangan Islam sejak jaman kenabian hingga saat ini.

 

Adalah sebuah kewajiban bagi setiap umat Muslim agar memiliki kecenderungan hati pada Al-Quds. Serta mengambil bagian dalam upaya membela Al-Quds sesuai dengan kapasitas yang dimiliki masing-masing. Umat Islam tidak boleh bersikap acuh tak acuh pada apa yang terjadi di Palestina. Setiap Muslim seharusnya memiliki ghirah untuk mendukung perjuangan yang dilakukan dalam melawan penjajahan Zionis Israel. Yang terejawantahkan baik dengan perbuatan, dengan perkataan maupun hanya di dalam hati saja.

 

Akhir kata, semoga Allah selalu memberkahi Palestina dan menjaga Masjidil Aqsha yang kita cintai.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *