Pengertian, Hukum Dan Jenis Wakaf

Definisi wakaf menurut istilah syara’ adalah menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya dan digunakan untuk kebaikan. Wakaf merupakan salah satu ibadah mulia yang dianjurkan untuk dilakukan bagi yang punya kemampuan melakukannya. Wakaf masuk dalam lingkup sedekah, secara umum memang segala bentuk kedermawanan untuk kebaikan orang lain masuk dalam lingkup sedekah, sedangkan wakaf sendiri termasuk lingkup sedekah jariyah.

Orang yang mewakafkan harta nya disebut wakif. Wakif bisa meliputi perseorangan, organisasi, dan badan hukum. Sedangkan yang menerima zakat disebut nadzir, seperti halnya wakif, nadzir juga bisa jadi meliputi perseorangan, organisasi atau badan hukum.

secara umum tidak ada dalil al-quran yang secara pasti menerangkan konsep wakaf. Maka ulama biasanya memasukkan wakaf sebagai amalan infak fi sabilillah. Maka dengan begitu, konsep zakat menggunakan dalil yang menjelaskan keumuman infak fi sabilillah. Seperti diantaranya:

“Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (Q.S. al-Baqarah (2): 267)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (Q.S. Ali Imran (3): 92)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah (2): 261)

Sementara dalil hadist yang menjadi rujukan dasar dalil tentang wakaf adalah hadist yang menceritakan kisah Umar ketika memperoleh tanah di khaibar, secara lengkap hadist tersebut berbunyi:

“Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan wariskan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”

Dari beberapa hadist yang menjadi pedoman amalan wakaf, di tarik kesimpulan bahwa kedudukan wakaf sama dengan sedekah. Hukum wakaf adalah sunnah seperti hal nya sedekah secara umum, namun jika pelaksanaan wakaf bertujuan untuk menepati nadzar maka hukum wakaf naik menjadi wajib.

Seiring berkembang nya zaman, ulama kontemporer kemudian membagi jenis wakaf ke dalam beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut:

  1. Berdasarkan peruntukan
  • Wakaf ahli, wakaf yang diperuntukkan untuk kemaslahatan lingkungan keluarga dan kerabat.
  • Wakaf khairi, wakaf yang diperuntukkan untuk kepentingan agama dan umat.
  1. Berdasarkan jenis harta
  • Benda tidak bergerak, meliputi hak tanah, bangunan, tanaman, dan aset tidak bergerak lainnya.
  • Benda bergerak, meliputi uang, saham, surat berharga, hak kekayaan intelektual, dan aset bergerak lainnya.
  1. Berdasarkan waktu
  • Muabbad, wakaf yang diberikan untuk selamanya
  • Mu’aqqot, wakaf dalam jangka waktu tertentu
  1. Berdasarkan penggunaan harta
  • Ubasyir, wakaf yang menghasilkan pelayanan masyarakat.
  • Mistitsmary, wakaf yang ditujukan untuk penanaman modal dalam produksi barang dan pelayanan yang sesuai dengan syariat dalam bentuk apapun yang hasilnya diwakafkan sesuai keinginan pewakaf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *