Pembahasan Singkat Seputar Zakat Profesi

Zakat merupakan salah satu dari lima pilar utama keislaman kita. Hukum membayar zakat adalah wajib ain, kewajiban yang berlaku untuk tiap individu yang mendapat dosa dan ganjaran jika sengaja ditinggalkan. Zakat dalam islam secara garis besar terbagi menjadi dua macam, yaitu zakat fitrah yang dibayarkan di bulan Ramadhan hingga sebelum pelaksanaan sholat idul fitri, dan zakat mal atau zakat harta yang bisa dibayarkan kapan saja sesuai dengan aturan yang telah disepakati.

Zakat mal, memiliki banyak pembagian lagi. Beberapa jenis harta yang dimiliki yang bisa berkembang dan menghasilkan maka wajib bagi kita untuk menyisihkan sebagian untuk dizakatkan dengan aturan sesuai syariat yang berlaku. Harta yang terbebani zakat mal adalah emas, perak, hasil ternak, hasil pertanian, hasil tambang, barang temuan, harta dagang dan harta pendapatan atau profesi. Artikel kali ini akan membahas segala hal yang perlu diketahui seputar zakat profesi.

definisi

Zakat profesi disebut juga zakat penghasilan, merupakan zakat yang dibebankan kepada harta yang diperoleh dari hasil pekerjaan atau profesi kita. Memang zakat profesi kurang begitu familiar di khazanah keilmuan islam klasik, karena profesi sendiri merupakan sumber pendapatan yang baru muncul di era modern, seperti gaji pegawai negeri, upah dokter dan konsultan, dll.

Ketentuan dalam zakat profesi

Seiring berkembangnya cara masyarakat memperoleh penghasilnya, ulama kontemporer sepakat untuk memasukkan zakat profesi sebagai salah satu kewajiban zakat mal yang harus dikeluarkan. Para ulama menilai hasil profesi atau penghasilan yang dimiliki dari profesi kita termasuk jenis harta yang wajib zakat dari segi analogi (qiyash) memiliki kemiripan dengan karakteristik yang telah ada yakni model zakat hasil pertanian terkait masalah cara memperolehnya, dan memiliki kemiripan dengan zakat emas sesuai dengan wujud yang diperoleh. Maka jika kita mengikuti aturan dari zakat tani, maka aturan zakat profesi mengikuti aturan hasil tani dari segi nisab dan haul, namun jika kita mengikuti aturan zakat emas, maka zakat profesi mengikuti aturan zakat emas dari segi nisab dan haul.

Jenis zakat profesi

Ulama kontemporer membedakan zakat profesi atau zakat penghasilan dalam dua bentuk:

Pertama, Fatwa MUI tahun 2003 tentang zakat profesi, menjelaskan bahwa zakat profesi memiliki masa perhitungan selama satu tahun dan dibayarkan setahun sekali atau bisa dibayarkan tiap bulan untuk memudahkan. Karena model harta yang diterima berupa uang, maka bentuk harta ini diqiyaskan sebagai emas dan perak dan mengikuti aturan nisab zakat emas dengan takaran 2,5 % dari total penghasilan yang dimiliki.

Dengan begitu nisab dari harta profesi adalah sebesar 20 dinar atau setara dengan 85 gram sekarang dikalikan dengan harga emas di pasaran, dengan masa kepemilikan selama satu tahun. Misalnya, harga 85 gram emas sebesar 300.000 rupiah, maka nisab dari harta profesi sebesar 25.500.000 rupiah yang di akumulasi selama setahun, jadi jika kita memiliki penghasilan sebesar 2.500.000 rupiah perbulan maka dalam setahun akan terkumpul sebanyak 30.000.000 rupiah, artinya telah wajib zakat. Dengan takaran 2,5% dari total penghasilan, maka jumlah uang yang harus dizakatkan sebesar 750.000 rupiah pertahun.

Kedua, zakat profesi mengikuti kaidah zakat harta pertanian. Maka, harta penghasilan yang kita miliki langsung dibayarkan sesuai dengan kaidah zakat pertanian dengan nisab setara dengan 520 kg beras dan dibayarkan dengan takaran 2,5% dari total penghasilan yang diterima. Misalnya harga beras di pasaran rata-rata 4000 rupiah perkilo, maka nisab dari harta penghasilan setara dengan harga beras 520kg atau setara dengan 2.080.000 rupiah, jika gaji per bulan yang diterima sebesar 3.000.000 rupiah per bulan, maka zakat yang wajib dikeluarkan per bulan sebesar 75.000 rupiah, atau 900.000 per tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *