Mendidik Anak Dengan Interaksi Yang Baik

syarat terjadinya interaksi sosial

Islam sangat menaruh perhatian dengan pendidikan anak usia dini untuk mewujudkan generasi penerus yang berkualitas dan berakhlak mulia. Rasulullah membekali umatnya bagaimana cara mendidik anak dalam islam. Apa saja nilai-nilai yang ditanamkan ke anak untuk membentuk anak menjadi generasi berakhlak mulia dan berkualitas, juga telah dibekali oleh Rasulullah melalui sabda-sabdanya.

Dalam islam, mendidik anak yang terbaik adalah dengan mengenalkan nilai-nilai keimanan sejak usia dini. Konsep ini sesuai dengan sabda Rasulullah;

Artinya: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”.

Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman, juz 6, hal. 398 dari Ibn abbas)

Dengan mengenalkan konsep keimanan sejak dini dalam anak, kita secara tidak langsung membuatkan tameng atau persai untuk menjaga diri anak kita saat telah dewasa dan menghadapi dunia yang sebenarnya.

Selain mengenalkan konsep, sangat dianjurkan pula untuk mengenalkan anak sejak dini praktik-praktik ibadah yang penting untuk diketahui sebagai penyokong keimanan mereka. Ajari anak konsep keimanan sembari mengajari pula mereka untuk melakukan ibadah praktik seperti sholat, dan ibadah-ibadah lainnya agar anak menjadi pribadi yang berakhlak dan rajin beribadah.

Dalam mengajari anak, tentu perlu dilakukan dengan komunikasi yang baik. Dengan begitu anak-anak akan menjadi betah untuk terus belajar dari kita. Tanpa adanya komunikasi yang baik, anak akan sulit untuk diajari dan malahan salah sasaran.

Untuk memahami cara berkomunikasi, perlu orang tua memahami dan mengilmuinya terlebih dahulu mengenai komunikasi yang baik. Secara umum, komunikasi masuk dalam lingkup interaksi sosial. Dalam interaksi komunikasi merupakan pondasi utama interaksi, maka dari itu interaksi dan komunikasi lekat dan tidak bisa dipisahkan. Dalam ilmu sosiologi, para ahli merumuskan syarat terjadinya interaksi sosial, secara rinci di jelaskan sebagai berikut:

  1. Ada dua orang atau lebih, syarat pertama terjadinya interaksi sosial adalah adanya dua individu atau lebih yang terlibat di dalam nya. tidak akan terjadi interaksi sosial saat yang terlibat hanya satu orang saja.
  2. Adanya tujuan bersama, syarat terjadinya interaksi sosial selanjutnya adalah adanya tujuan bersama untuk melakukan interaksi. Jika interaksi sosial dibangun tanpa tujuan, kegiatan tersebut sama saja tidak terjadi interaksi sosial yang efektif efektif.
  3. Adanya kesamaan konsep, syarat selanjutnya terjadinya interaksi sosial ialah adanya kesamaan konsep antara pihakpihak yang terlibat.
  4. Kontak sosial, syarat utama keberhasilan interaksi sosial adalah kontak sosial. Tanpa adanya kontak sosial, tidak adakan terjadi interaksi sosial.
  5. Komunikasi, syarat terakhir terjadinya interaksi sosial adalah komunikasi. Komunikasi yang dimaksud bisa berupa komunikasi verbal maupun no-verbal atau dengan simbol atau tulisan.

Interaksi sosial yang baik adalah interaksi sosial yang sesuai dengan etika yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Jangan ajari atau memberikan contoh ke anak cara komunikasi yang buruk, karena bagaimanapun anak-anak yang tengah dalam masa pertumbuhan akan menirukan apa yang kita lakukan dengan mudah.

Jangan ajari anak anda bahasa kotor, jangan perlihatkan pertengkaran anda tepat di hadapan anak karena akan berdampak secara psikologi. Selain itu perlu untuk memilihkan apa dan dengan siapa anak anda berkomunikasi agar apa yang dipelajari anak anda tidak mudah hilang, pilihlah lingkungan yang kondusif dan sesuai untuk anak anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *