Membangun Peradaban Islam Dengan Wakaf

Wakaf merupakan ibadah amaliah yang masuk kategori sedekah jariyah yang melekat pada nya keutamaan dan hukum dan tata cara khusus sesuai dengan yang dirumuskan ulama berdasarkan dalil al-quran dan hadist nabi. Wakaf merupakan amalan memberikan harta yang bernilai manfaat tinggi ke pada pihak tertentu untuk dikelola demi kepentingan dan kemajuan orang banyak. Hukum wakaf seperti halnya sedekah adalah sunnah. Tidak ada dalil al-quran yang secara jelas menerangkan mengenai amalan wakaf, maka dari itu ulama secara umum mengkiaskan wakaf sebagai sedekah fi sabilillah sehingga dalil dan landasan hukum wakaf sama dengan dalil sedekah fi sabilillah secara umum. Salah satu landasan dalil wakaf ialah;

“Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (Q.S. al-Baqarah (2): 267)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (Q.S. Ali Imran (3): 92)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah (2): 261)

Sementara dari segi hadist, menurut ulama, wakaf sudah mulai diperkenalkan oleh Rasulullah saw saat berada di madinah, tepatnya di tahun kedua hijrah beliau. Mengenai siapa pencetus wakaf pertama kali, ulama berselisih paham akan hal ini. Sebagian mengatakan bahwa Rasulullah saw adalah orang pertama kali melakukan wakaf, yaitu wakaf tanah miliki beliau yang diwakafkan untuk pembangunan masjid. Dalil yang memperkuat hal ini ialah hadits yang diriwayatkan Umar bin Syabah dari ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’adz, ia berkata:

“Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam? Orang Muhajirin mengatakan Umar, sedangkan orang-orang Ansor mengatakan Rasulullah Saw.

Ketika itu (tahun ketiga Hijriyah) Rasulullah pernah mewakafkan tujuh buah kurma di Madinah, diantara adalah kebun “Araf, Shafiyah, Dalal, Barqah, dan kebun lainnya.

Sementara pendapat lain nya mengatakan Umar lah yang pertama kali melakukan wakaf. berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar ra. Disampaikan, bahwa sahabat Umar ra memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap Rasulullah untuk minta petunjuk.

Rasulullah mengatakan, “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan . Ibnu Umar berkata, “Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak dilarang bagi yang mengelola (nadzir) wakaf, makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta.” (HR. Muslim).

Namun terlepas dari siapa yang memulai melakukan wakaf, dalam sejarah mencatat bagaimana besarnya peran wakaf dalam membangun peradaban islam di masa Rasulullah saw membuat islam menjadi agama yang kuat dari segala aspek kehidupan.

Banyak sekali hikmah wakaf yang bisa kita ambil manfaatnya baik kepada pihak pemberi, manfaat kepada harta itu sendiri, dan manfaat kepada pihak yang menerima.

Hikmah wakaf kepada pihak yang memberikan sangatlah istimewa, wakaf merupakan salah satu amalan jariyah yang akan terus mengalir pahalanya bahkan saat si pemberi wakaf telah meninggal dunia. Keistimewaan ini bahkan tidak dimiliki ibadah amaliah lain nya seperti sholat, puasa, dan haji. Selain ganjaran pahala, wakaf juga bisa menghindarkan diri kita dari sifat tamak harta dunia yang hanya sementara. Sementara dari segi penerima, wakaf sangat bermanfaat sebagai penopang aspek-aspek dasar kehidupan.

Wakaf yang terbaik adalah wakaf dengan nilai produktif yang tinggi. Pemanfaatan harta wakaf untuk kepentingan bersama akan sangat membantu umat menopang segala aspek penting kehidupan, seperti sosial, pendidikan, dan perekonomian. Salah satu aspek yang paling terasa manfaatnya adalah aspek ekonomi yang dapat disokong dengan wakaf. Banyak peneliti dari luar yang kagum dengan konsep wakaf yang dimiliki oleh umat islam, bahkan kata mereka islam adalah raksasa ekonomi dengan sistem wakaf mereka.

Namun untuk sekarang raksasa tersebut masih tertidur dan belum memperlihatkan potensi sebenarnya. Belakangan kesadaran masyarakat untuk berwakaf mulai menurun, khususnya di indonesia. Bukan hanya kesadaran yang kurang, namun pengelolaan harta wakaf yang kurang maksimal bahkan adanya oknum-oknum yang memanfaatkan untuk ambisi pribadi juga menjadi faktor mengapa indonesia yang mayoritas islam belum bisa menjadi raksasa ekonomi.

Di tengah kemunduran ini, harusnya kita banyak merenungi dan menyadarkan diri untuk ikut mengambil peran dalam kemajuan islam agar keberhasilan peradaban islam di masa lampau dapat terulang kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *