Memasuki Musim Penghujan, Bagaimana Nasib Pengungsi?

Beberapa hari terakhir, cuaca yang gelap membuat para pengungsi di Palu, Donggala, dan Sigi menjadi sedikit khawatir. Bagaimana tidak? Hujan deras beberapa hari ini membuat mereka sedikit kesulitan di dalam tenda-tenda pengungsian.

Dimana mereka bisa berlindung? Rumah-rumah telah hancur rata bersama tanah. Tak ada tempat untuk bernaung dari derasnya hujan yang mengguyur seluruh permukaan. Hanya tenda-tenda sederhana yang menaungi mereka, namun air hujan bisa kapan saja menerobos ke dalam tenda.

Salah satu TNI mendatangi Rumah Sakit Lapangan Bulan Sabit Merah Indonesia untuk meminta tenda yang akan diberikan pada salah satu warga di Desa Ngatabaru Kabupaten Sigi.

“Masyarakat saya di Desa Ngata Baru atas nama Pak Oskar, mempunyai anak bayi, dan sekarang ia membuat tenda seadanya di depan rumahnya yang berupa gubuk. Saya berusaha mencarikannya tenda dan berkeliling dari bandara, dan ternyata di sana stoknya lagi kosong. Lalu saya melihat posko BSMI disini dan meminta tenda jika ada untuk saya berikan kepada warga saya”, ucapnya.

Sulfiadi Barmawi selaku Komandan Utama Posko Penanggulangan Bencana Bulan Sabit Merah di Kabupaten Sigi memberikan tenda untuk warga yang membutuhkan. Walaupun stok tenda di Rumah Sakit Lapangan BSMI sudah mulai habis, namun tidak menjadi sebuah halangan untuk saling berbagi.

“Kami memberikan tenda kepada warga, walaupun saat ini tenda kami jumlahnya sudah terbatas. Tenda ini digunakan untuk para pengungsi yang saat ini sangat membutuhkan”, kata Sulfiadi.

Kunjungan ke beberapa tempat pengungsian (15/10/18)

Di desa Ngata Baru, yang terkena dampak gempa ada sekitar 150 KK. Sebagian besar sudah memiliki tenda. Dan beberapa yang masih menggunakan tenda seadanya karena sudah tidak ada pembagian tenda yang masuk ke desa tersebut.

“Kondisi Sigi saat ini sudah mulai musim hujan. Dari yang kami lihat tenda-tenda yang digunakan pengungsi bukanlah tenda standar. Sehingga kami membutuhkan tenda yang bisa menjaga kenyamanan tempat tinggal mereka. Kita khawatir, ketidaknyamanan itu akan berdampak buruk bagi kesehatan mereka”, lanjut Sulfiadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *