Memahami Teror Virus Corona ( CoViD-19 )

Oleh : dr. Syukri Mawardi

Virus ini tetiba saja menjadi viral. Ini adalah varian baru dari corona virus. Tahun 2002, dunia di ributkan oleh jenis virus corona yang lain, SARS.  Varian lain yang tak kalah terkenalnya adalah Mers-CoV (Middle East Respiratory Syndrom). Dari namanya, kita bisa mengetahui dimana virus ini membentuk wabahnya.

CoViD-2019 ini mulai diperkenalkan bulan desember 2019. Wilayah-wilayah satelit China menyalakan alarm siaga. Di Makassar, masker dengan harga 500 rupiah/buah kini harus dibeli dengan harga 2000 hingga 2500 rupiah. Naik 500%, Fantastis. Wajar saja, kepanikan merebak begitu cepat melalui media sosial.

Kepanikan jelas tidak menyelesaikan masalah. Ini tentang respon time, ketenangan dan ketepatan . Wabah telah dan mungkin masih berlangsung bahkan saat kita sedang berbangga dengan sumber daya, infrastruktur dan adidaya ekonomi yang justru sama sekali tidak “berkutik” menghadapi penyebaran virus ini.

Menghadapi wabah seperti ini, Islam sebagai way of life yang syaamil (sempurna) dan mutakamil (menyeluruh) juga telah memiliki konsep baku. “Yang sudah berada di dalam dilarang keluar, dan yang dari luar dilarang untuk masuk” hingga akhirnya wabah itu dianggap telah selesai di daerah itu. Inilah prinsip isolasi yang selama ini kita kenal.

Lebih jauh lagi, seorang muslim harusnya memiliki paradigma cara pandang Islam terkait kejadian ini. Apapun penyakit itu maka yang menurunkannya adalah Allah. Allah yang berkuasa mutlak atas virus-virus yang tersebar itu. Akhirnya, dalam struktur  kesadaran berpikir kita menyadari penuh bahwa virus ini bukanlah sebab kematian.

Mengapa bukan sebab? Karena jika CoViD-2019 ini adalah sebab, maka akan melahirkan akibat yang sama. Ingat kaidahnya, sebab itu akan selalu melahirkan akibat. Ada yang penyakitnya sama, virus yang terkena juga sama, tingkat keparahan penyakitnya juga sama tapi ada yang bertahan hidup dan ada yang mati. Oleh karena itu,  penularan virus ini bukanlah sebab tapi adalah al-haal (keadaan).

Satu-satunya sebab kematian seseorang adalah takdir Allah telah tegak atas ajalnya. Oleh karena itu kesadaran ini perlu kita bangun dalam situasi wabah seperti ini agar setiap yang terpapar dan memiliki potensi terpapar memiliki keyakinan bahwa semuanya kejadian dan peristiwa berada diatas iradat Allah Subhanawata’ala.

Musibah wabah ini samasekali tidak kita inginkan (dan semoga kita tidak terkena). Namun,  jika telah terjadi, maka tidak ada pilihan bagi kita kecuali menghadapinya dengan bijaksana, tenang, tepat secara medis dan paradigma.

*) Penulis adalah Pengurus BSMI Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *