Memahami Ketentuan Zakat Fitrah

Zakat adalah salah satu dari 5 rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh setiap umat Islam. Secara bahasa, zakat memiliki arti mensucikan diri atau membersihkan diri. Sedangkan secara istilah, zakat adalah ukuran harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim sesuai dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Secara garis besar, zakat terbagi atas dua jenis yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap umat Islam merdeka setiap tahun di bulan Ramadhan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam syariat Islam. Adapun ketentuan zakat fitrah adalah sebagai berikut.

 

Hukum Membayar Zakat Fitrah

Hukum membayar zakat fitrah adalah wajib ‘ain bagi semua umat Muslim. Baik wanita maupun pria, baik masih muda maupun yang sudah tua. Tidak ada batasan untuk usia orang yang wajib mengeluarkan zakat fitrah, termasuk anak yang baru lahir zakatnya dibayarkan oleh orang tuanya.

Dalil yang mendasari tentang kewajiban zakat fitrah antara lain adalah.

Firman Allah dalam Q.S Al Baqarah ayat 110.

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat . Dan kebaikan apa saja kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (QS: Al-Baqarah 2:110).

 

Kemudian dari hadits Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhu.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin”.

Dan dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma.

“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menfardukan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya orang merdeka laki-laki wanita kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluar orang-orang menuju shalat”.

 

Syarat Wajib Membayar Zakat Fitrah

Seseorang dinyatakan wajib membayar zakat fitrah jika memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut.

  1. Orang Islam yang merdeka
  2. Membayar saat menemui dua waktu yaitu di antara bulan Ramadhan dan Syawal walaupun hanya sesaat
  3. Memiliki harta yang telah melebihi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan keluarga yang dia nafkahi pada hari raya dan malam Ied

Adapun orang yang dinyatakan tidak wajib membayar zakat antara lain adalah:

  1. Orang yang meninggal pada bulan Ramadhan, sebelum matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan
  2. Anak yang lahir setelah matahari terbenam pada hari terakhir bulan Ramadhan
  3. Orang yang baru memeluk agama Islam setelah matahari terbenam pada hari terakhir bulan Ramadhan
  4. Tanggungan istri yang dinikahi setelah matahari terbenam pada hari terakhir bulan Ramadhan

Waktu Membayar Zakat Fitrah

Berbeda dengan sedekah atau infak yang bisa diberikan kapan saja, zakat memiliki ketentuan waktu tertentu untuk dikeluarkan/dibayarkan. Adapun ketentuan waktunya adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah s.a.w bersabda.

“Telah menceritakan kepada kami [Muslim bin Amru bin Muslim Abu Amru Al Khaddza’ Al Madani] telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Nafi’ As Sha`igh] dari [Ibnu Abu Zannad] dari [Musa bin Uqbah] dari [Nafi’] dari [Ibnu Umar] bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membayar zakat fitrah sebelum berangkat (ke tempat shalat) pada hari raya idul fitri. Abu ‘Isa berkata, ini merupakan hadits hasan shahih gharib, atas dasar ini para ulama lebih menganjurkan untuk membayar zakat fitrah sebelum berangkat shalat.” (HR. Tirmidzi: 613)

Berdasarkan hadits ini, zakat fitrah sebaiknya dibayarkan sebelum shalat Idul Fitri, namun begitu terdapat pula kebolehan untuk melaksanakannya di waktu lain. Secara umum waktu pembayaran zakat fitrah dikategorikan sebagai berikut:

  • Waktu harus : yakni waktu pembayaran zakat fitrah sesuai dengan syarat sahnya. Yaitu bermula dari awal bulan Ramadhan sampai akhir bulan Ramadhan.
  • Waktu wajib : yakni setelah matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan.
  • Waktu afdhal : yakni waktu yang diutamakan untuk membayar zakat fitrah.
  • Waktu makruh adalah waktu yang sebaiknya dihindari untuk membayar zakat fitrah, yaitu pada saat pelaksanaan shalat Idul Fitri sampai sebelum matahari terbenam.
  • Waktu haram adalah waktu yang tidak dibolehkan membayar zakat fitrah atau jika kita membayar zakat fitrah di waktu ini maka zakat yang kita bayarkan dianggap tidak sah. Yaitu setelah terbenam matahari di hari raya Idul Fitri.

 

Salah satu hikmah ditetapkannya waktu tersebut terkait dari tujuan pembayaran zakat fitrah. Salah satu tujuan zakat fitrah adalah memberikan makanan kepada fakir miskin (atau orang-orang yang berhak menerima zakat lainnya) agar mereka turut bergembira dan bisa merayakan hari raya Idul Fitri dengan makanan yang layak. Karena itu dianjurkan untuk diberikan menjelang pelaksanaan Idul Fitri agar makanan yang diberikan lebih segar. Itulah salah satu hikmah di antara tujuan lainnya yang lebih utama yakni mematuhi ketentuan zakat yang diatur oleh syariat Islam.

 

Jenis Zakat Fitrah

Jenis zakat fitrah adalah berupa makanan pokok sesuai dengan makanan pokok yang biasa dimakan sehari-hari di tempat tinggal masing-masing. Jika di Indonesia maka zakat bisa berupa beras. Namun bisa pula berupa bahan makanan lain tergantung daerahnya seperti sagu atau singkong jika sagu atau singkong menjadi makanan pokok di daerah tersebut.

Jenis zakat fitrah diutamakan berupa makanan pokok, namun jika ingin menyerahkannya dalam bentuk uang juga dibolehkan sesuai dengan ukuran zakat fitrah yang telah ditentukan. Uang tersebut kemudian diserahkan kepada lembaga amil zakat yang akan menggunakan uang tersebut untuk membeli beras / makanan pokok. Kemudian beras tersebut didistribusikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

 

Berapa Banyak Zakat Fitrah yang Wajib Dikeluarkan?

Zakat fitrah yang wajib dikeluarkan oleh setiap umat Islam adalah sebanyak satu sha’. Menurut para ulama, satu sha’ bisa dikonversikan menjadi 3,5 liter atau 2,5 kilogram beras. Jika ingin menyerahkan dalam bentuk uang maka disesuaikan dengan harga beras dengan jumlah tersebut.

 

Niat Zakat Fitrah

Salah satu rukun dari zakat fitrah adalah niat. Menurut madzhab Syafi’i niat zakat fitrah harus dilafadzkan sesuai dengan lafadz sebagai berikut.

Niat zakat fitrah untuk diri sendiri adalah:

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺍَﻥْ ﺍُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻰْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku berniat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Selanjutnya sebagai kepala keluarga, biasanya membayarkan pula zakat fitrah untuk istri dan anak-anak yang menjadi tanggungannya. Maka lafadz niat untuk istri dan anak pun berbeda, yakni sebagai berikut.

Niat zakat fitrah untuk istri adalah.

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

 

“Aku berniat zakat fitrah untuk istriku, fardhu karena Allah ta’ala”

Selanjutnya, niat zakat fitrah untuk anak laki-laki adalah.

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

 

“Aku berniat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku…. (sebutkan namanya), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat zakat fitrah untuk anak perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

 

“Aku berniat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan namanya), fardhu karena Allah ta’ala”

Jika ingin menyampaikan niat secara sekaligus untuk diri sendiri dan keluarga yang menjadi tanggungannya maka dapat pula diucapkan dengan lafadz berikut.

Niat zakat fitrah untuk diri sendiri dan anggota keluarga adalah.

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻨِّﻰْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُﻨِﻰْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

 

“Aku berniat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri dan seluruh orang yang menjadi tanggungan nafkahku, fardhu karena Allah ta’ala”.

 

Selain itu, jika ingin membayarkan zakat untuk orang lain yang bukan menjadi tanggungan kita, maka lafadznya adalah sebagai berikut.

ﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

 

“Aku berniat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan nama orang yang diwakilkan dengan jelas), fardhu karena Allah ta’ala”

 

Doa Zakat Fitrah

Setelah menyerahkan zakat, maka penerima zakat disunnahkan untuk mengucapkan do’a kepada pemberi zakat. Do’a yang dipanjatkan bisa menggunakan berbagai kalimat sesuai bahasa masing-masing, namun dapat pula mengamalkan do’a-do’a yang dianjurkan, antara lain sebagai berikut:

“Semoga Allah memberikan pahala atas harta yang telah kamu berikan, dan semoga Allah memberkahi harta yang kamu simpan dan menjadikan harta ini pembersih bagimu”

 

Demikianlah sekelumit penjelasan tentang zakat fitrah. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *