Konsep Islam Mengatasi Pengangguran

masalah sosial pengangguran

Pengangguran adalah “keadaan tanpa pekerjaan yang dihadapi oleh segolongan tenaga kerja, yang telah berusaha mencari pekerjaan, tetapi tidak memperolehnya” (Sadono Sukirno. 2004: 355). Artinya saat seseorang yang sudah masuk umur produktif dan mencari pekerjaan namun belum mendapatkannya maka orang tersebut masuk dalam kategori pengangguran. Di indonesia sendiri, menurut angka dari pemerintahan, jumlah pengangguran mencapai sekitar 5,13% hingga 5,33% atau sekitar 6,87 juta.

Setidaknya ada dua faktor utama penyebab banyaknya pengangguran di Indonesia. yang pertama adalah faktor dari individu nya sendir, dan yang kedua adalah faktor perekonomian negara. Kedua gaktor ini saling tumpang tindih membuat pengangguran meraja lela. Faktor individu meliputi kurang nya angkatan kerja yang berkualitas, tingkat pendidikan yang rendah, dan keahlian yang masih minim, masalah ini kemudian diperparah dengan kondisi ekonomi yang terseok-seok dalam berkembang membuat lapangan kerja yang tersedia sedikit.

Menurut Qardhawi (2005:6-18) masalah sosial pengangguran dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  1. Pengangguran terpaksa (jabariyah)

Jenis pengangguran dimana seseorang tidak mempunyai hak sedikitpun memilih status ini dan terpaksa menerimanya. Pengangguran jenis ini biasanya terjadi pada seseorang yang tidak memiliki skill atau keterampilan sedikitpun sehingga tidak diterima di mana pun. Dapat juga berarti sesorang yang memiliki skill atau keterampilan namun tidak berguna karena perubahan dan perkembangan zaman.

  1. Pengangguran khiyariyah

Pengangguran ini meliputi seseorang yang memilih untuk menganggur padahal dia memiliki kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja. Orang tersebut lebih memilih berpangku tangan dan bermalas-malasan tanpa ada usaha sendiri untuk mencari nafkah. Orang-orang seperti ini merupakan beban terhadap orang lain, karena lebih memilih berpangku tangan daripada bekerja.

Dalam islam, seorang muslim yang menganggur merupakan perbuatan yang tercela. Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Dengan menganggur sama saja mereka tidak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan menyelisihi petintah Allah untuk mencari nafkah. Walau Allah menanggung rezeki masing-masing hamba, namun bukan berarti kita bermalas-malasan untuk tidak bekerja untuk mencukupi penghidupan.

Dalam islam, bermalas-malasan dan menganggur akan memberikan dampak negatif bukan hanya untuk dirinya sendiri namun juga akan berdampak secara tidak langsung terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dengan menganggur seorang muslim akan menjadi miskin, dan miskin akan mendekatkan ke kufuran.

Dalam beberapa dalil dalam al-quran, Allah menegaskan bahwa segala apa yang ada di bumi telah ditundukkan untuk kita mencari penghidupan yang halal dan baik di dalamnya. Allah telah menundukkan lautan untuk bisa kita arungi, tanah untuk bisa kita Tanami, dan hewan ternak untuk bisa kita ternakkan. Islam sangat menekankan penganutnya untuk memanfaatkan segala yang Allah telah sediakan yang baik dan halal sebagai lahan pencarian penghidupan mereka. Islam mendorong umatnya menekuni aktivitas produksi dalam ekonomi dalam segala bentuk seperti pertanian, perkebunan, peternakan, industri, perdagangan, dan segala bentuk aktivitas produksi lainnya.

Selain memerintahkan untuk bekerja, islam juga mengajarkan kita untuk bekerja dengan baik dan profesional. Sebagaimana hadist Rasulullah:

“Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan pekerjaan yang dilakukan secara itqan (profesional)” (HR.Baihaqi).

Saat kita bisa mengikuti dengan baik apa yang diperintahkan atau dianjurkan oleh Allah dan rasul-nya terkait bekerja dan mencari pekerjaan, secara langsung dan tidak langsung kita telah ikut andil dalam menyelesaikan masalah sosial pengangguran yang terjadi di negara kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *