Interaksi Sosial Dalam Islam

faktor pendorong interaksi sosial

Secara definisi interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang dinamis antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok, dalam berbagai bentuk seperti, kerja sama, persaingan, mengobrol. Menurut ahli, Soerjono Soekanto mengatakan “Interaksi sosial adalah kunci dari seluruh kehidupan sosial, oleh karena itu tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi kehidupan bersama. Interaksi terjadi antara orang-perorangan, kelompok dengan kelompok, dan individu dengan kelompok.” (Sahrul,2001:67)

Faktor pendorong interaksi sosial terdiri atas 5 faktor, berikut diantaranya:

  • Imitasi, merupakan interaksi sosial yang didasarkan oleh faktor meniru. Misalnya seorang gadis yang mencoba mulai pakai jilbab karena melihat ibu nya.
  • Sugesti, merupakan interaksi sosial yang timbul karena adanya pengaruh. Seperti pengaruh ibu ke anak, dokter ke pasien, guru ke murid, dll.
  • Identifikasi, merupakan interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya individu yang mengidentikkan diri dengan pihak lain. Seperti seorang penggila bola yang menyamakan dirinya dengan pesepak bola idolanya.
  • Simpati, merupakan interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya rasa tertarik dan kagum ke pihak lain.
  • Empati, merupakan interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya perasaan yang sama dengan orang lain, atau kita seakan biasa merakan apa yang dirasakan orang lain. Seperti tindakan membantu korban kecelakaan.

Islam yang mengemban predikat agama universal yang sempurna juga memiliki pembahasan mengenai interaksi sosial yang mendalam, bahkan termasuk asas-asas utama keislaman. Dalam islam dikenal prinsip dasar hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah) dan hablum minannaas (hubungan manusia dengan manusia). Pengertian interaksi sosial dalam islam juga tidak jauh berbeda yaitu hubungan dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok, seperti saling sapa, berjabat tangan, ukhuwah islamiyah, silaturrahmi, dll.

Secara umum interaksi sosial berarti hubungan sosial. Dalam islam sendiri, Salah satu bentuk hubungan sosial yang paling populer adalah silaturrahmi yang secara bahasa berarti hubungan kasih sayang. Islam juga mengajarkan etika dasar dalam berinteraksi yang tercatut dalam al-quran dan hadist Rasulullah saw. Berkaitan dengan hal ini, berikut beberapa etika berinteraksi sosial dalam islam:

  1. Tidak menghina dan menghujat.

Dewasa ini fenomena interaksi sosial yang tidak beretika tengah marak terjadi di mana-mana. Seiring perkembangan media sosial yang makin memberi kebebasan tiap orang untuk berinteraksi, bersamaan dengan itu telah banyak fenomena-fenomena negatif yang terjadi seperti ujaran kebencian, saling hujat, dll.

  1. Tidak saling memfitnah

Selain menjaga cara berinteraksi, apa yang disampaikan dalam berinteraksi pun juga harus sesuai koridor moral dan agama. Jangan biarkan diri anda terjerumus ke dalam etika buruk ini, karena gal tersebut tidak dibenarkan dalam islam.

  1. Tidak berburuk sangka

Sangat tidak dibenarkan bagi kita dalam berinteraksi dalam lingkungan masyarakat untuk berburuk sangka ke orang lain. Selain bisa merugikan orang lain, perilaku ini juga bisa memicu perpecahan dan ketidakharmonisan.

  1. Tawaduk atau rendah diri

Siapapun diantara kita pasti tidak ada yang menyenangi perilaku sombong. Orang sombong cenderung di jauhi oleh orang lain karena kesombongannya. Menjaga etika untuk selalu rendah hati sangat penting, untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga dan masyarakat sekitar.

  1. Berakhlak mulia

Dengan akhlak mulia, bukan hanya diri dan lingkungan anda yang mendapat hal positif, namun juga bisa berdampak pada kebaikan-kebaikan umat islam.

Islam sama sekali tidak mengajarkan kita untuk merusak hubungan sosial dengan orang sekitar. ketahuilah sekuat apapun anda, pasti tetap butuh orang lain. Saat meninggal orang lain lah yang akan mengurus anda ke pemakan, anda tidak mungkin mengurus diri anda sendiri saat sudah meninggal. jangan sampai hubungan sosial anda rusak karena kesalahan etika yang kalian lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *