Indonesia Dirundung Duka

PEDULI KORBAN BENCANA DI INDONESIA

Belum selesai kita melepas tenda di Lombok, datanglah tsunami di Palu. Belum selesai kita mengobati luka warga Palu, datang lagi tsunami di Anyer. Belumlah lagi air mata kita mengering, bencana banjir bandang terjadi di Sulawesi Selatan.

Berbagai bencana demi bencana melanda negeri ini. Menjadi teguran, cobaan dan ujian agar kita menjadi masyarakat yang lebih baik lagi dan lebih dekat kepada sang Ilahi.

Sebagai sebuah bangsa yang satu rasa dan satu asa, kita tentu turut merasa sakit jika saudara kita mengalami bencana. Tak peduli suku apa, agama apa. Islam mengajarkan kita untuk membantu siapapun yang mengalami kekusahan.

Para korban bencana alam di berbagai belahan negeri ini menanti menanti uluran tangan kita. Kesusahan mereka tidak berakhir dalam satu dua hari saja, untuk itu mari kita terus membersamai mereka.

BSMI Sulawesi Selatan hadir sebagai organisasi kemanusiaan di bawah bendera Bulan Sabit Merah Indonesia yang berkomitmen untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan kepada para korban bencana di berbagai daerah di Indonesia. Kami membutuhkan dukungan Anda agar berbagai program yang kami jalankan di berbagai lokasi bencana dapat terselenggara dengan baik.

___

Salurkan bantuan Anda melalui:

Rekening Bank Mandiri Syariah.

No. Rekening 7075070572  a.n. Bulan Sabit Merah Indonesia Makassar

atau

Rekening Bank BRI.

No. Rekening 0050-01-002192-56-1 a.n Bulan Sabit Merah Indonesia Makassar

Salam kemanusiaan tanpa batas !

Mari tiada henti selamatkan satu jiwa, sambung seribu asa.

===================

Konfirmasi donasi
Jika Anda telah mengirimkan donasi Anda, silakan melakukan konfirmasi dengan mengisi formulir berikut ini
Mohon diisi dengan nama lengkap Anda
Isi dengan nomor telepon / ponsel / WhatsApp aktif yang Anda miliki
Mohon diisi dengan alamat email aktif Anda (jika ada)
Pilih salah satu No. Rek di atas untuk memudahkan kami mengecek dana yang telah Anda kirimkan.
Tuliskan berapa nominal dana yang telah Anda kirimkan
Isi dengan pesan atau komentar yang ingin Anda sampaikan kepada Admin

===================

Jika ada hal yang ingin Anda tanyakan kepada pihak admin. Anda dapat mengirimkan pertanyaan Anda melalui formulir ini,

Isi dengan nomor telepon / ponsel / WhatsApp aktif Anda
Isi dengan alamat email aktif Anda
Tuliskan pesan, komentar atau pertanyaan Anda di sini

 

===================

Sepanjang tahun 2018 Indonesia dirundung duka yang mendalam. Betapa tidak? Bencana demi bencana melanda negeri yang sangat kita cintai ini. Mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir bandang hingga likuifaksi yang mengerikan. Bumi Indonesia seperti bergejolak dan murka. Membuat banyak dari kita bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dengan bangsa ini?

Bencana alam dapat dimaknai sebagai fenomena geografis dan kondisi alam. Namun sebagai umat beragama bencana alam juga dapat dimaknai sebagai bentuk teguran ataupun ujian yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya. Teguran agar umat manusia menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Serta ujian agar derajat umat manusia menjadi lebih tinggi dan sebagai ladang pahala bagi siapapun yang bersabar karenanya.

Segala bencana alam seyogyanya kita maknai sebagai bentuk perbaikan diri tanpa harus menghakimi para korban yang tertimpa musibah. Karena lagi-lagi, kita tidak pernah tahu apakah kita sendiri akan aman dari bencana. Jauhkanlah diri dari penyakit hati seperti takabbur dan teruslah berserah diri dimanapun dan bagaimanapun keadaan kita.

Bencana yang terjadi di negeri kita bukan hanya ujian bagi para korban melainkan juga ujian bagi kita semua. Apakah dengan keadaan aman yang kita rasakan menumbuhkan rasa jumawa di hati kita? Atau malah kita sibuk mengutuk mereka yang tertimpa musibah dengan berbagai tuduhan yang menyakitkan? Di saat bencana terjadi, apakah hati kita tergerak untuk membantu para korban? Mari kita mengintrospeksi diri kita masing-masing.

 

Indonesia Ring of Fire

Indonesia, secara geografis adalah negeri yang disebut-sebut berada di wilayah Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Hal inilah yang secara geografis menjadi salah satu penyebab banyaknya bencana alam yang memungkinkan untuk terjadi.

Menurut para ahli geografi, Cincin Api Pasifik adalah daerah yang berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini seringkali mengalami gempa dan letusan gunung merapi. Bahkan mencapai 91% dari seluruh gempa bumi yang terjadi di dunia berlokasi di wilayah ini. 81% dari gempa bumi yang terparah terjadi pula di wilayah ini.

Wilayah Cincin Api Pasific meliputi wilayah yang membentang dari Pulau Jawa hingga ke Sumatera, Himalaya, Mediterania, hingga ke Atlantika.

Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia selain karena dikelilingi oleh wilayah Ring of Fire, ia juga berada di atas tiga tumbukan lempeng benua yakni Eurasia di sebelah utara, Indo-Australia di sebelah selatan, dan Pasifik di sebelah timur.

Secara geografis, letak Indonesia ini memiliki sisi positif maupun negatif. Sisi positifnya adalah Indonesia memiliki tanah yang subur serta kekayaan hayati yang melimpah dan beraneka ragam baik di daratan maupun di lautan. Selain itu, letak ini juga memiliki potensi sumber energi yang besar yang berasal dari perut bumi. Namun sisi negatifnya lokasi ini menjadikan Indonesia rawan terhadap berbagai bencana alam terutama gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami.

 

Beberapa Bencana Alam Terdahsyat di Indonesia

Sebagai negara yang rawan bencana, sejarah mencatat bahwa Indonesia mengalami berbagai bencana alam. Beberapa di antaranya adalah yang terdahsyat yang pernah terjadi, antara lain:

  1. Ledakan Gunung Krakatau 1883

Ledakan Gunung Krakatau yang tejadi pada tahun 1883 adalah salah satu bencana alam yang paling dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia. Gunung Krakatau dikenal oleh Eropa dengan nama Krakatoa. Meletusnya gunung ini yang disertai dengan kejadian tsunami mengakibatkan korban jiwa hingga 21.000 nyawa. Bencana ini menghebohkan masyarakat bukan hanya di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia karena wilayah ini menjadi salah satu jalur perdagangan antar bangsa yang cukup ramai di masa itu. Ledakan Gunung Krakatau membentuk Selat Sunda dan sisa asap hitam akibat ledakan masih terus mengambang di udara sekitar Gunung Krakatau hingga berbulan-bulan lamanya.

 

  1. Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh tahun 2004

Sepertinya masih teringat jelas di benak kita tentang betapa dahsyatnya gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh dan sekitar Sumatera pada tahun 2004 lalu. Gempa bumi dan tsunami Aceh pada waktu itu memakan korban jiwa yang sangat banyak hingga mencapai 230.000 korban jiwa dan disebut-sebut sebagai bencana paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke 21. Peristiwa yang terjadi di pagi hari pada tanggal 24 Desember 2004 ini berpusat di lepas pantai barat Sumatera dan turut menimpa beberapa negara tetangga di sekitar lokasi tersebut seperti Thailand dan Srilanka.

 

  1. Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi di Palu tahun 2018

Apa yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah pada tahun 2018 adalah hal yang sangat mengerikan. Sebab terdapat 3 bencana alam yang melanda wilayah ini sekaligus, yaitu gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. Likuifaksi adalah bencana alam berupa pergerakan tanah hingga tanah menjadi berbentuk seperti “bubur” yang menelam apa saja yang ada di atasnya ke dalam tanah. Para ahli geologi menyebutkan bahwa likuifaksi yang terjadi di Palu adalah hal yang sangat menyeramkan yang terjadi dalam sejarah Indonesia.

 

  1. Gempa Tektonik di Yogyakarta tahun 2006

Salah satu gempa yang dahsyat lainnya adalah gempa tektonik yang terjadi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Gempa yang berkekuatan 5,7 pada Skala Richter ini berlangsung selama 8 detik dan menewaskan lenih dari 5.700 korban jiwa. Adapun korban luka-luka mencapai puluhan ribu orang dan menghancurkan ratusan ribu rumah. Mayoritas korban yang tewas pada bencanan ini adalah wanita dan anak-anak.

 

  1. Tsunami Flores, NTT tahun 1992

Pada tahun 1993 terjadi tsunami di Flores, Nusa Tenggara Timur diawali dengan gempa berkekuatan 7,8 pada Skala Richter yang dirasakan hingga di Bali. Sekitar 2000 orang meregang nyawa dan 18.000 rumah rusak. Mayoritas korban jiwa akibat tsunami dan gempa ini adalah perempuan.

 

  1. Tsunami Anyer tahun 2018

Tsunami yang terjadi di anyer pada akhir tahun 2018 disebut-sebut sebagai silent tsunami karena tidak adanya gempa bumi yang biasanya mengawali setiap kejadian tsunami. Akibat tidak adanya gempa, terjadi simpang siur informasi yang menganggap bahwa yang terjadi bukanlah tsunami melainkan peristiwa gelombang tinggi air laut. Menurut para ahli, tsunami yang terjadi diakibatkan oleh adanya erupsi anak Gunung Krakatau yang mengakibatkan terjadinya longsor di bawah lau hingga timbullah tsunami. Kejadian ini menandakan bahwa terjadi aktifitas di gunung anak Krakakatu, hal yang kemudian menimbulkan kegelisahan tersendiri. Tsunami setinggi 3 meter yang menerjang pesisir pantai Anyer berpusat di Selat Sunda dan turut terdampak pada lokasi di sekitarnya seperti Lampung dan Banten. Bencana ini mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan materil cukup signifikan dan melumpuhkan kegiatan pariwisata di lokasi tersebut.

Selain beberapa bencana yang kami paparkan di atas, terdapat sejumlah bencana yang efeknya masih dirasakan sampai hari ini, seperti gempa bumi di Lombok dan sekitarnya, bencana alam di Palu, bencana alam di Anyer dan banjir bandang di Sulawesi Selatan.

Sejumlah korban luka-luka dan yang kehilangan tempat tinggal masih berada di berbagai tenda pengungsian dengan berbagai fasilitas penunjang hidup yang seadanya. Terancam berbagai penyakit, hingga ketidaknyamanan hidup.

 

Hakikat Bencana Alam dalam Islam

Sebagai umat Muslim tentunya kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti atas ijin dan kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Jangankan gempa bumi yang berakibat berat pada kehidupan banyak orang, bahkan daun yang berjatuhan pun terjadi atas kehendak Allah.

Kita tentunya tidak ingin berpikiran seperti cara berpikir kaum kafir yang tidak mempercayai hal-hal nir nalar yang terjadi di sekeliling kita. Mereka semata-mata menganggap bahwa segala bencana adalah fenomena alam semata dan menafikan unsur-unsur spritual di dalamnya. Di sisi lain, kita juga tidak ingin menjadi orang yang berpikiran animisme bahwa segala bencana terjadi akibat roh-roh gaib yang murka dan menafikan faktor alam.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengajarkan umatnya untuk mempercayai hal fisik sekaligus gaib. Bencana alam kita nilai sebagai bagian dari fenomena alam dan bagian dari kehendak Allah.

Fenomena alam dalam Islam disebut sebagai sunnatullah yakni peristiwa-peristiwa berupa sebab akibat yang terjadi secara empiris yang dapat dianalisa oleh nalar dan ilmu pengetahuan manusia. Umat muslim tidak boleh menafikan adanya fenomena alam tersebut sebab hal itu adalah bagian dari ayat-ayat Kauniyah Allah di alam semesta.

Namun di sisi lain, umat Muslim juga harus meyakini bahwa segala fenomena alam terjadi atas kehendak Allah dan mengandung hal-hal nir nalar di sana, seperti teguran, azab, ujian dan sebagainya.

Sebagaimana firman Allah dalam beberapa ayat berikut ini:

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-‘Ankabut : 40)

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf : 99)

Selain berupa teguran dan adzab, bencana alam juga bisa dimaknai berupa ujian kesabaran umat manusia dan ganjaran yang baik atasnya. Sebagaimana firman Allah dalam beberapa ayat berikut:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155)

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami semua akan kembali kepada-Nya).” (QS. Al-Baqarah : 156)

 

Sikap Umat Muslim Kepada Orang yang Ditimpa Musibah

Bencana alam adalah sebuah musibah yang dapat menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Baik orang yang bermaksiat maupun orang yang taat beribadah tak ada jaminan yang membuatnya luput dari musibah dan bencana.

Jika kita menjadi orang yang tertimpa musibah maka sepatutnya kita bersabar atas segala yang menimpa diri kita, tidak mengeluh, atau bahkan merutuk pada Allah. Melainkan tetap bersyukur atas anugerah yang masih Allah berikan pada kita.

Di sisi lain jika kita menjadi orang yang menyaksikan saudara kita tertimpa musibah atau bencana, maka ada sejumlah sikap dan adab yang perlu kita lakukan, antara lain sebagai berikut.

  1. Mengucapkan duka cita dan belasungkawa

Saat menyaksikan orang lain tertimpa musibah, maka sebagai sesama manusia kita turut merasa sedih. Islam mengajarkan agar tidak menyimpan perasaan tersebut di hati saja melainkan menyampaikannya berupa ucapan duka cita atau belasungkawa atas bencana yang terjadi. Hal ini termasuk adab yang dianjurkan terhadap muslim, salah satu tujuannya agar orang yang tertimpa musibah menjadi lapang perasaannya, dan merasa tidak sendiri bahwa ada orang-orang yang peduli di sekitar mereka.

 

Dasar dalil yang menjelaskan hal ini adalah sabda Rasulullah dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud:  “Siapa orang yang mengucapkan belasungkawa (mendorong orang untuk bersabar), maka Allah akan memberikan pahala yang sama besarnya dengan orang yang tertimpa musibah.”

 

  1. Tidak merasa senang dan bergembira atas musibah yang menimpa orang lain

Selain mengucapkan belasungkawa, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak merasa senang dan bergembira atas musibah yang menimpa orang lain. Mungkin masih seringkali kita dapati beberapa orang yang menunjukkan kesenangannya di saat orang lain sedang ditimpa musibah. Hal ini adalah perbuatan yang tercela dan jauh dari akhlaqul karimah yang diajarkan dalam Islam.

 

  1. Tidak menghina dan mencari kekurangan orang lain yang tertimpa musibah

Hal ini sepertinya sering kita jumpai di sekitar kita. Di saat orang lain tertimpa musibah, muncullah berbagai komentar negatif dari orang yang tidak tertimpa musibah, berupa kalimat-kalimat seperti “Rasakanlah adzab Allah, kalian pantas mendapatkannya” dan hinaan yang tidak elok lainnya.

 

Meskipun benar bahwa bencana alam adalah teguran dan ujian dari Allah, namun menyakiti hati orang yang tertimpa musibah dengan perkataan yang tidak menyenangkan adalah adab yang buruk dan tercela.

 

Rasulullah memperingati dalam sebuah hadits yaitu : “Jangan kamu menampakkan kesenangan dihadapan saudara kamu yang terkena musibah, maka Allah akan selamatkan orang yang terkena musibah dan Allah akan timpakan musibah yang sama atas kamu karena kesenangan kamu itu.”

 

  1. Membantu orang yang tertimpa musibah agar meringankan kesusahannya dan memenuhi hajatnya

Adalah perbuatan yang mulia jika kita membantu meringankan beban saudara kita yang tertimpa musibah serta membantu mereka untuk memenuhi hajatnya. Ini adalah bentuk habluminannas yakni hubungan baik dengan sesama manusia.

Ada sejumlah dalil yang berisi anjuran untuk membantu orang lain yang tertimpa musibah, di antaranya adalah hadits Nabi yang berbunyi:

 

“Siapa orang yang memberikan kemudahan kepada orang muslim yang mengalami kesusahan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan lagi baginya.”

“Siapa orang yang menunaikan hajat saudaranya yang muslim, maka Allah akan memenuhi hajatnya pula.”

 

Para Korban Bencana Alam Menanti Uluran Tangan Kita

Setelah mengetahui pentingnya membantu sesama manusia yang tertimpa musibah, maka kami dari Bulan Sabit Merah Indonesia cabang Sulawesi Selatan mengajak saudaraku sekalian untuk melakukan tindakan nyata terhadap para korban bencana alam di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Lombok, Palu, Anyer dan Sulawesi Selatan.

Bencana alam yang para korban alami tidak hanya menghilangkan nyawa orang-orang yang mereka kasihi melainkan juga kehilangan harta benda yang mereka telah kumpulkan selama ini. Mereka kehilangan tempat tinggal, pakaian, pekerjaan dan makanan bahkan terancam berbagai penyakit akibat kondisi lingkungan yang tidak stabil.

Untuk memulihkan kondisi mereka seperti sedia kala tentu saja dibutuhkan waktu yang lama dan dukungan yang kontinu dari berbagai pihak.

Anda dapat terlibat secara aktif membantu mereka melalui donasi ke rekening BSMI SulSel sebagai berikut:

Rekening Bank Mandiri Syariah.

No. Rekening 7075070572

a.n. Bulan Sabit Merah Indonesia Makassar

atau

Rekening Bank BRI.

No. Rekening 0050-01-002192-56-1

a.n Bulan Sabit Merah Indonesia Makassar

*Konfirmasi pengiriman donasi ke 082195914610 (Official BSMI Society)

 

Semoga segala bentuk bantuan dan sedekah yang Anda berikan dapat meringankan beban para korban dan menerima ganjaran yang baik dari Allah s.w.t.

 

Tim BSMI SulSel