Hari Raya Idul Adha Dan Ibadah Qurban

Idul adha merupakan salah satu dari 2 hari raya umat muslim yang dilaksanakan tiap tahun pada tanggal 10 Zulhijah. Hari raya ini merupakan momentum memperingati peristiwa qurban, dimana ketika nabi Ibrahim merelakan anaknya Ismail untuk disembelih sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, kemudian sembelihan itu digantikan oleh hewan ternak.

Pelaksanaan hari raya idul adha akan dimulai dengan sholat ied berjamaah terlebih dahulu seperti hal-halnya sholat ied pada hari raya idul fitri, kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban yang kemudian akan dibagi-bagikan kepada seluruh umat muslim yang membutuhkan dengan porsi dan aturan yang sudah ditetapkan oleh islam.

Sholat Idul Adha

Sebagaimana sholat pada hari raya lainnya, kedudukan sholat ied pada hari raya idul adha adalah sunnah. Sementara beberapa ulama dengan pendapat yang kuat mengatakan hukum sholat idul adha adalah wajib. Baik bagi laki-laki maupun perempuan yang masih dalam keadaan mukmin, pendapat ini sesuai dalil:

أمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ : أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ . قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِحْدَانَا لا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Artinya: ”Ummu Atiyyah berkata: Rasulullah menyuruh kami perempuan untuk keluar di Idul Fitri dan Idul Adha. Baik wanita yang baru balig, wanita sedang haid dan wanita perawan. Sementara orang yang haid dipisahkan dari (tempat) shalat.Agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan doa umat Islam.”Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada di antara kami yang tidak mempunyai jilbab. “Beliau mengatakan, “Sebaiknya saudara perempuannya memberinya jilbab.”

Kemudian diperkuat dengan dalil al-quran yang artinya:

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah (karena Rabbmu) “. [Al-Kautsar : 2]

Pelaksanaan qurban

Ibadah sholat ied hari raya idul adha akan selalu diikuti dengan ibadah qurban sesuai syariat yang telah ditetapkan. Hukum qurban bagi muslim adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi yang mampu melakukannya. Ada perbedaan di kalangan ulama mengenai hukum qurban. Ketentuan hukum qurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam Syafi’I, sementara Imam Abu Hanifah mewajibkan qurban bagi muslim yang mampu secara finansial dan tidak dalam keadaan safar.

Definisi qurban sendiri berasal dari bahasa arab, memiliki asal kata yang sama dengan Qorib yang artinya dekat. qurban dalam syariat islam juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Waktu penyembelihan hewan qurban dimulai pada hari raya idul adha, setelah pelaksanaan sholat ied. Tidak disyariatkan menyembelih hewan qurban sebelum pelaksanaan sholat ied atau tidak boleh dilaksanakan sesudah matahari terbit pada hari raya idul adha. Pemotongan hewan qurban boleh dilaksanakan setelah sholat ied, sampai tiga hari setelah hari daya idul adha (hari tasyrik) dan boleh dilaksanakan siang maupun malam.

Pembagian hewan qurban

Disunnahkan bagi setiap yang berqurban untuk memakan hewan qurbannya sendiri dan membagikannya ke kerabat, orang fakir dan orang yang lebih membutuhkan sebagaimana sabda Rasulullah “Makanlah dan berilah makan kepada (fakir-miskin) dan simpanlah.”. dari dalil ini ulama kemudian merincikan pembagian daging qurban yang afdhal, yaitu, sepertiga untuk dimakan, sepertiga untuk dibagikan, dan sepertiga untuk disimpan.

Daging hewan qurban, boleh dibawa dan diangkut dan di bawa ke daerah lain, bahkan ke negara lain. Beberapa ulama berpendapat dilarang menjual segala hal yang berkaitan dengan hewan qurban, termasuk kulit dan isi perutnya. Tidak boleh pula daging qurban dijadikan upah kepada tukang potong daging. Sementara menurut Abu Hanifah, boleh menjual kulit hewan qurban dan uangnya disedekahkan atau dibelikan barang yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *