Hal Yang Harus Anda Ketahui Tentang Wakaf Produktif

wakaf produktif

Wakaf merupakan salah satu ibadah amaliah yang mulia di sisi Allah swt. Salah satu manfaat terbesar wakaf bagi pihak yang mengeluarkan adalah jaminan amalan yang tidak terputus bahkan hingga si wakif telah meninggal dunia. Berbeda dengan ibadah amaliah lainnya seperti sholat, puasa, dan berhaji yang pahala nya terputus saat meninggal dunia. Sementara dari sisi pihak yang menerima, wakaf dapat berguna untuk kemaslahatan agama dan umat secara luas.

Di indonesia, tidak sedikit diantara kita hanya mengenal wakaf dalam bentuk tanah saja, padahal jika ditinjau secara lebih menyeluruh ruang lingkup wakaf sangat luas dan cukup rumit dalam penerapannya. di al-quran sendiri, tidak ditemukan penjelasan secara umum yang memudahkan kita untuk mempelajari amalan ini, begitupun dari segi hadist, membuat ulama berijtihad akan hal ini.

Belakangan di era modern ini, mulai banyak dikenal istilah baru dalam dunia wakaf, salah satunya adalah wakaf produktif. Harta yang disedekahkan untuk kepentingan produksi baik dalam lingkup pertanian, perindustrian, perdagangan, hingga jasa yang manfaatnya bukan benda secara langsung namun dari keuntungan bersih dari hasil pengembangan wakaf yang diberikan kepada orang-orang yang berhak menerima sesuai peruntukan dan tujuan wakaf.

Mudahnya, wakaf produktif artinya wakaf yang dikeluarkan untuk kepentingan produksi yang mana penghasilan dari penjualan produk tersebut di salurkan atau diberikan kepada pihak yang berhak. Contohnya, si A mewakafkan tanah untuk digunakan berkebun yang penghasilan dari penjualan hasil kebun tersebut dialihkan untuk pendanaan pesantren.

jenis dan macam wakaf produktif tidak hanya sebatas tanah saja, namun meliputi segala harta benda yang bisa diambil manfaatnya untuk kebutuhan produksi, meliputi; wakaf tunai, wakaf bangunan, wakaf perkebunan, wakaf emas, wakaf polis asuransi syariah, wakaf hewan ternak, wakaf al-quran, wakaf masjid, dll.

sebagaimana rukun wakaf pada umumnya, rukun wakaf produktif juga memiliki 4 rukun dengan syarat sebagai batasan yang telah ditentukan syariat. Secara rinci rukun wakaf ialah sebagai berikut:

  1. Wakif, wakif merupakan pihak yang mewakafkan hartanya, syarat wakif haruslah orang yang merdeka (bukan budak), berakal sehat, baligh, dan tidak di bawah pengampuan.
  2. Mauquf, merupakan harta yang hendak diwakafkan, agar sah diwakafkan, harta tersebut haruslah benda yang mempunyai nilai, jika benda tersebut termasuk benda bergerak harus sesuai dengan ketentuan syariat, memiliki takaran dan batasan yang jelas, dan benda tersebut haruslah benda milik pewakaf sepenuhnya.
  3. Mauquf ‘alaih, merupakan pihak yang menerima wakaf, baik dalam bentuk perseorangan, organisasi, atau badan hukum. Agar pihak tersebut bisa dikatakan Mauquf ‘alaih maka harus dinyatakan secara tegas pada waktu mengikrarkan wakaf.
  4. Shigat, bisa disebut juga dengan ikrar merupakan ucapan, tulisan atau isyarat dari orang yang berakad untuk menyatakan kehendak dan menjelaskan apa yang diinginkannya. Ikrar haruslah di laksanakan seketika dan tidak mengandung pengertian untuk mencabut kembali wakaf yang sudah dilakukan.

Setelah mengetahui kedudukan dan tata cara membayar wakaf, maka diharapkan beberapa dari kita tergerak hatinya untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk disedekahkan demi kepentingan umat. Sejarah telah mencatat bagaimana wakaf menjadi motor penggerak peradaban. Terkhusus wakaf produktif yang sifatnya akan memberi kemajuan dari bidang ekonomi kepada umat islam secara menyeluruh. Betapa luas manfaat wakaf bagi pihak yang memberi maupun pihak yang menerima, tinggal bagaimana diri kita berusaha dan meniatkan diri untuk suatu saat melakukannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *