Bagaimana Islam Memandang Kemiskinan

Hampir segala aspek kehidupan tidak ada yang luput dalam pembahasan islam, termasuk masalah populer perekonomian yaitu kemiskinan. dalam perspektif islam, kemiskinan merupakan kondisi dimana seseorang memiliki harta namun tidak mampu mencukupi semua kebutuhan yang menyangkut eksistensinya. Setidaknya ada tiga kebutuhan utama tiap manusia yaitu, sandang, pangan, dan papan, saat ketiga aspek ini tidak mampu dipenuhi oleh seorang sudah bisa dikatakan miskin dengan segala hak yang melekat padanya.

Al-quran dan hadist memang tidak menetapkan angkat tertentu sebagai ukuran menentukan seseorang termasuk miskin atau tidak. Hal ini membuat beberapa ulama sebagian berselisih paham dalam menetapkan indikator kemiskinan. Beberapa ulama menggunakan kriteria zakat sebagai tolok ukur kemiskinan. sebagaimana kita ketahui dalam zakat terdapat istilah nisab yaitu batas minimal harta yang dimiliki wajib dizakatkan atau tidak, sebagai contoh harta emas yang memiliki batas minima 20 dinar atau setara dengan 2.293.850 rupiah, maka angka tersebut merupakan batas penghasilan minimal seseorang diwajibkan berzakat, sebaliknya mereka yang berpenghasilan di bawah angka tersebut masuk kategori miskin da berhak mendapat zakat.

Dalam islam, ada dua istilah yang saling tumpang tindih mengenai kemiskinan yaitu miskin dan fakir. Istilah inilah yang kemudian melekat kedalam bahasa Indonesia sebagai satu kesatuan yaitu fakir miskin, namun dalam islam dua istilah ini berbeda makna, kriteria, dan penggunaan.

Menurut mazhab Hanabilah, fakir adalah orang yang tidak punya harta serta tidak punya penghasilan yang mencukupi kebutuhan dasarnya. Atau mencukupi hajat paling asasinya. Termasuk di antaranya adalah seorang wanita tidak punya suami yang bisa menafkahinya. Hajat dasar atau kebutuhan pokok manusia umumnya adalah sandang, pangan dan papan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Sementara istilah miskin merujuk kepada orang yang memilki harta namun tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pokok nya. Dari dua definisi ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi fakir lebih buruk daripada kondisi miskin, karena miskin masih berpeluang untuk memenuhi kebutuhannya meski sangat kecil jumlahnya. Sementara orang fakir memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi kebutuhannya.

Al-quran dan hadist memang tidak secara detail mengenai indikator kemiskinan, maka dari itu untuk menemukan jalan keluar akan permasalahan ini, perlu referensi pendukung yang bisa diambil patokan. Indonesia secara umum mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana sesorang atau kelompok orang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya secara bermartabat. Bank dunia sendiri menyebutkan bahwa kemiskinan adalah “poverty is concern with absolute standard of living of part of society the poor in equality refers to relative living standards across the whole society”. (Sumodiningrat, 1999). Dari sini kita sudah dapat menarik kesimpulan bahwa kemiskinan terkait dengan batas absolut standar hidup manusia. Hampir sama dengan definisi dalam islam, kemiskinan juga didefinisikan sebagai ketidakmampuan memenuhi hajat hidup standar untuk mendapat penghidupan yang layak.

Mengenai penanggulangannya, islam sendiri memandang bahwa kemiskinan merupakan masalah struktural yang terjadi dalam suatu pemerintahan, artinya penyebab utama kemiskinan adalah sistem dan kondisi ekonomi yang tidak kondusif. Kondisi ekonomi yang tidak kondusif ini dapat meliputi sistem yang tidak pro rakyat kecil, perkembangan ekonomi yang lambat sehingga indonesia minim lapangan kerja, dll. karena islam menganggap bahwa masalah ekonomi adalah kesalahan sistem, solusi yang ditawarkan pun sifatnya sistematis. Sedekah dan zakat merupakan instrumen ekonomi islam yang dianggap mampu mengentas kemiskinan. Bersamaan dengan membudaya nya sedekah dan zakat, di saat itu pula kemiskinan akan bisa dikurangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *